Kebangkitan dan Kejatuhan Pusat Kripto Singapura
Selama ledakan Bitcoin di era pandemi, Singapura muncul sebagai pemain utama dalam industri mata uang kripto, menarik para pengusaha dan investor di seluruh dunia. Namun, peristiwa baru-baru ini telah menimbulkan pertanyaan tentang masa depan kripto negara kota ini.
Pada tahun 2022, pemusnahan koin digital senilai $60 miliar oleh Terraform Labs Pte menyebabkan runtuhnya hedge fund Three Arrows Capital, yang keduanya berbasis di Singapura. Insiden ini memicu kejatuhan pasar senilai $2 triliun, mengirimkan gelombang kejut ke seluruh industri kripto.
Teka-teki Hukum
Sebulan yang lalu, salah satu pendiri Three Arrows Capital, Su Zhu, ditangkap dan dipenjara di Singapura karena gagal bekerja sama dengan para kreditur. Sementara itu, foto-foto Kyle Davies, salah satu pendiri lainnya, digiring oleh polisi menunjukkan kejatuhan industri ini. Keduanya dilarang selama sembilan tahun dari aktivitas yang diatur oleh Otoritas Moneter Singapura (MAS).
Dalang Terraform Labs, Do Kwon, melarikan diri dari Singapura, ditangkap di Montenegro, dan sekarang menghadapi ekstradisi ke Korea Selatan atau Amerika Serikat atas tuduhan penipuan. Peristiwa ini membuat dunia kripto bergejolak.
Sikap Regulasi Singapura
Peraturan Singapura selalu condong ke arah investor profesional dan investor dengan kekayaan bersih tinggi sembari memastikan perlindungan. Negara kota ini mengelola aset senilai $3,65 triliun pada tahun 2022, sebagian besar berasal dari luar negeri.
MAS bertujuan untuk menghindari perdagangan spekulatif yang berisiko oleh investor ritel, seperti Bitcoin dan token meme seperti Dogecoin. Pendekatan ini telah mengarah pada pendekatan yang berhati-hati dalam memasarkan token kepada masyarakat umum.
Pada tahun depan, Singapura bermaksud untuk memiliki salah satu rezim perlindungan konsumen yang paling ketat untuk mata uang kripto dengan tetap mempertahankan pendekatan fasilitatif untuk tokenisasi. Ravi Menon, direktur utama MAS, mengungkapkan visi ini, menekankan perlunya keseimbangan antara regulasi dan inovasi.
Evolusi Peraturan
Regulator di Singapura memulai upaya untuk memperketat perlindungan konsumen bahkan sebelum jatuhnya pasar kripto pada tahun 2022. Mereka membatasi iklan terkait aset digital pada bulan Januari tahun itu dan menghentikan peminjaman token untuk mendapatkan bunga. Investor ritel sekarang menghadapi penilaian kesesuaian yang ketat dan kemungkinan larangan meminjam untuk membeli token.
Strategi Singapura adalah memulai dengan pendekatan sentuhan ringan pada fintech dan kemudian menyesuaikannya ketika risiko menjadi lebih signifikan. Pendekatan ini telah terbukti dalam penanganan regulasi mata uang kripto.
Di luar Token Spekulatif
Risiko kripto tidak hanya terbatas pada token spekulatif. Skandal FTX tahun 2022 mengungkapkan kekurangan multi-miliar dolar yang tidak dapat dibayarkan kepada pelanggan. Beberapa eksekutif FTX menghadapi tuduhan penipuan, sementara salah satu pendiri Sam Bankman-Fried menunggu keputusan juri di pengadilan New York. Khususnya, perusahaan milik negara Singapura, Temasek Holdings Pte, mengalami penurunan nilai yang signifikan pada investasi FTX-nya.
Perbandingan Internasional
Pusat-pusat keuangan lainnya di seluruh dunia juga beradaptasi dengan lanskap kripto. Hong Kong membentuk kembali pendekatannya untuk melindungi investor sambil mempromosikan aset digital. Di Uni Eropa dan Dubai, peraturan baru sedang dibuat. Amerika Serikat, yang dipimpin oleh Ketua SEC Gary Gensler, sedang menindak kripto, tetapi kejelasan legislatif masih sulit dipahami.
Potensi Blockchain
Terlepas dari kekacauan di ruang kripto, teknologi blockchain terus menawarkan peluang untuk meningkatkan industri keuangan. MAS telah memulai proyek-proyek untuk mengeksplorasi manfaat blockchain, seperti penghematan biaya, penyelesaian yang efisien, dan pembayaran lintas batas. Kemajuan ini dapat merevolusi operasi keuangan.
Lanskap Mata Uang Kripto Singapura
Dalam beberapa bulan terakhir, beberapa pemain besar, termasuk Coinbase, Crypto.com, Sygnum Bank AG, Circle Internet Financial, dan Ripple Labs, telah mendapatkan lisensi di Singapura untuk layanan token pembayaran digital. Negara kota ini menjadi pusat bagi perusahaan-perusahaan mata uang kripto.
Masa Depan yang Cerah untuk Singapura?
Singapura tetap menjadi pesaing untuk menjadi pusat kripto terkemuka di Asia, jika industri ini terus pulih. Saingannya, Hong Kong, menghadapi tantangan karena dugaan insiden penipuan di JPEX, yang telah mengganggu ambisi kripto mereka. Lembaga keuangan tradisional juga bereksperimen dengan blockchain, yang bertujuan untuk meningkatkan operasi back-office, mengelola risiko, dan merampingkan transaksi pasar modal. Perjalanan kripto Singapura adalah kisah yang terus berkembang yang terus terungkap.